Di tengah persaingan olahraga modern yang sering kali menghalalkan segala cara demi meraih kemenangan, Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi) di Kabupaten Sijunjung mengambil langkah yang sangat berani dan kontroversial. Mereka menerapkan kebijakan tegas yang menempatkan Adab Sebelum Medali di atas segalanya, bahkan di atas bakat luar biasa seorang atlet. Sijunjung telah membuktikan komitmennya dengan tidak segan-segan memecat atau mencoret atlet yang memiliki potensi meraih medali emas namun menunjukkan perilaku yang tidak sopan, meremehkan lawan, atau tidak menghargai pelatih dan lingkungan sekitar. Kebijakan ini menegaskan bahwa prestasi tanpa karakter hanyalah kegagalan yang tertunda.
Filosofi “Adab Sebelum Medali” berakar pada budaya masyarakat Sijunjung yang sangat menjunjung tinggi etika dan sopan santun dalam berinteraksi. Bagi para pengurus Bapomi setempat, seorang atlet mahasiswa adalah representasi dari intelektualitas dan moralitas daerah. Jika seorang mahasiswa memiliki kemampuan fisik yang hebat namun tidak memiliki adab, maka ia dianggap sebagai ancaman bagi keharmonisan tim dan citra dunia pendidikan. Perilaku buruk seperti berkata kasar, tidak disiplin, atau bersikap arogan dipandang sebagai cacat permanen yang tidak bisa ditutupi oleh medali emas sekalipun.
Mengapa langkah pemecatan ini dianggap perlu? Dalam jangka panjang, atlet yang tidak memiliki adab cenderung menjadi racun dalam lingkungan latihan. Keangkuhan sering kali membuat mereka merasa tidak perlu lagi mendengarkan instruksi, yang pada akhirnya akan menghambat perkembangan teknis mereka sendiri. Selain itu, sikap tidak sopan merusak semangat sportivitas yang merupakan jiwa dari olahraga itu sendiri. Bapomi Sijunjung percaya bahwa lebih baik mengirimkan atlet dengan kemampuan rata-rata namun memiliki integritas moral yang tinggi, daripada mengirimkan “mesin pemenang” yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dan martabat organisasi.
Langkah tegas ini memberikan efek jera sekaligus pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa lainnya. Di Sijunjung, setiap sesi latihan selalu dimulai dan diakhiri dengan menekankan pentingnya menghormati lawan dan menghargai setiap proses. Atlet diajarkan bahwa kekuatan fisik harus dibarengi dengan kelembutan hati dan kerendahan hati. Pembentukan adab ini dilakukan secara konsisten melalui pengawasan ketat terhadap perilaku sehari-hari, baik di dalam maupun di luar lapangan. Mahasiswa yang mampu menjaga etika komunikasinya dan menunjukkan rasa hormat kepada siapa pun, justru sering kali tampil lebih tenang dan fokus saat menghadapi tekanan pertandingan yang berat.