Kesehatan gigi mungkin bukan hal pertama yang dipikirkan oleh seorang perenang saat mereka menceburkan diri ke dalam kolam. Namun, paparan air kolam yang konstan dalam jangka waktu bertahun-tahun ternyata memiliki dampak yang nyata terhadap integritas email gigi. Isu mengenai gigi keropos karena klorin menjadi topik yang hangat diperbincangkan setelah munculnya beberapa kasus erosi gigi pada atlet mahasiswa yang menghabiskan waktu lebih dari enam jam per minggu di kolam renang dengan pengelolaan kimiawi yang kurang presisi. Bapomi Sijunjung melakukan peninjauan terhadap fenomena ini guna memberikan perlindungan menyeluruh bagi para atletnya.
Erosi gigi terjadi ketika tingkat keasaman (pH) air kolam berada di bawah batas normal, yaitu kurang dari 7,2. Klorin sendiri sebenarnya adalah gas yang ketika dilarutkan dalam air membantu membunuh bakteri, namun jika tidak diseimbangkan dengan bahan pengontrol pH yang tepat, air kolam bisa menjadi bersifat asam. Sifat asam inilah yang secara perlahan akan melarutkan mineral pada email gigi, lapisan terluar yang melindungi gigi dari kerusakan. Hasil riset Bapomi Sijunjung menunjukkan bahwa atlet yang sering melakukan teknik pernapasan melalui mulut saat berenang memiliki risiko paparan asam yang lebih tinggi pada permukaan gigi depan mereka.
Bahaya Tersembunyi di Balik Air Kolam yang Asam
Banyak pengelola kolam renang yang kurang teliti dalam memantau kadar pH harian, hanya fokus pada kejernihan air melalui pemberian kaporit yang berlebihan. Bagi atlet mahasiswa, hal ini adalah ancaman kesehatan yang serius. Email gigi yang menipis tidak dapat tumbuh kembali. Gejala awalnya sering kali berupa rasa linu atau sensitif saat mengonsumsi makanan dingin atau panas. Jika dibiarkan, gigi akan tampak lebih kuning karena lapisan dentin yang berada di bawah email mulai terlihat, dan bentuk gigi bisa berubah menjadi lebih pendek atau bergerigi di bagian ujungnya.
Kondisi gigi keropos ini bukan hanya masalah estetika, tetapi juga dapat memengaruhi asupan nutrisi atlet jika mereka kesulitan untuk mengunyah makanan akibat rasa ngilu yang hebat. Bapomi Sijunjung menekankan bahwa kesadaran akan kualitas air kolam adalah hak setiap atlet. Pelatih dan mahasiswa harus didorong untuk berani menanyakan laporan uji kualitas air secara berkala kepada pengelola fasilitas guna memastikan keamanan lingkungan latihan mereka dari paparan asam yang merusak jaringan keras tubuh.