Kabupaten Sijunjung di Sumatera Barat memiliki potensi sumber daya manusia yang besar, terutama di kalangan anak-anak. Di bulan Ramadan yang ceria ini, mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) di wilayah tersebut berinisiatif menggelar lomba mewarnai islami. Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan biasa untuk mengisi waktu, melainkan sebuah metode edukatif untuk memperkenalkan nilai-nilai agama melalui seni rupa sejak dini. Dengan coretan warna di atas kertas, anak-anak diajak untuk mengekspresikan pemahaman mereka tentang keindahan Islam, kebersihan masjid, hingga kemeriahan hari raya.
Kegiatan ini menjadi ajang yang sangat efektif untuk temukan bakat terpendam yang selama ini mungkin tidak terlihat karena kurangnya wadah kreativitas di tingkat desa. Banyak anak Sijunjung yang ternyata memiliki rasa artistik tinggi, mampu memadukan warna dengan harmonis, dan memiliki ketelitian yang luar biasa. Mahasiswa bertindak sebagai fasilitator sekaligus juri yang memberikan apresiasi atas setiap upaya kreatif yang dilakukan peserta. Dalam lomba ini, kemenangan bukan menjadi tujuan utama, melainkan proses berani mencoba dan rasa percaya diri dalam berkarya.
Materi yang diberikan untuk diwarnai mencakup gambar-gambar yang mengandung pesan moral, seperti gambar anak yang sedang bersedekah, membantu orang tua, atau suasana salat berjemaah. Hal ini bertujuan agar memori visual anak-anak terisi dengan perilaku-perilaku terpuji. Sambil mewarnai, para mahasiswa juga menceritakan kisah-kisah singkat yang berkaitan dengan gambar tersebut, sehingga aspek kognitif dan afektif anak berkembang secara bersamaan. Inilah keunikan lomba mewarnai yang didesain secara integratif antara seni dan dakwah tingkat dasar.
Antusiasme orang tua di Sijunjung sangat luar biasa. Mereka merasa senang karena anak-anak mereka memiliki kegiatan positif yang menjauhkan mereka dari layar televisi atau ponsel selama berjam-jam. Kegiatan yang diadakan di serambi masjid ini juga berhasil menghidupkan suasana rumah ibadah dengan energi anak-anak yang ceria. Mahasiswa melihat bahwa melalui seni, pendekatan agama menjadi jauh lebih menyenangkan dan tidak menakutkan bagi anak-anak. Ini adalah strategi penting dalam membangun fondasi karakter generasi penerus yang mencintai agamanya dengan cara yang kreatif.
Bagi mahasiswa, menyelenggarakan acara seperti ini di daerah seperti Sijunjung memberikan pengalaman manajemen acara dan komunikasi publik yang sangat berharga. Mereka belajar bagaimana mengkondisikan audiens anak-anak, mengelola logistik perlombaan dengan dana terbatas, hingga menjalin hubungan baik dengan perangkat desa. Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menjadi mesin penggerak kreativitas di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota. Bakat terpendam yang ditemukan selama lomba ini diharapkan terus dipupuk oleh pihak sekolah maupun orang tua setempat.