Cekmat! Bapomi Sijunjung Gelar Kompetisi Catur Papan Khusus Netra

Olahraga catur sering disebut sebagai permainan pikiran yang membutuhkan visualisasi papan yang tajam. Namun, bagaimana jika permainan ini dilakukan oleh mereka yang tidak dapat melihat? Di Kabupaten Sijunjung, Bapomi menunjukkan bahwa batasan visual bukanlah halangan untuk adu strategi di atas papan hitam-putih. Melalui program “Catur Papan Khusus Netra“, Bapomi Sijunjung berhasil mengubah persepsi masyarakat mengenai batasan kemampuan manusia melalui sebuah turnamen yang penuh dengan ketenangan namun sarat akan ketegangan taktis.

Pelaksanaan kompetisi ini didasari oleh keinginan untuk memberikan ruang kompetisi yang setara bagi penyandang disabilitas penglihatan. Berbeda dengan pertandingan biasa, kompetisi ini menggunakan papan khusus yang memiliki tekstur berbeda pada setiap kotaknya (biasanya kotak hitam lebih tinggi dari kotak putih) dan lubang untuk menancapkan buah catur agar tidak mudah bergeser saat disentuh. Bapomi Sijunjung melakukan pengadaan peralatan ini secara masif agar setiap peserta dapat berlatih dan bertanding dengan standar internasional. Dalam dunia netra, indra peraba menjadi kunci utama dalam memetakan posisi lawan dan menyusun serangan.

Gelar kompetisi ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai wilayah di Sijunjung. Bapomi melihat bahwa banyak penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan analisis luar biasa namun jarang diberikan panggung untuk menunjukkan bakatnya. Dengan adanya ajang ini, mereka tidak hanya berkompetisi memperebutkan gelar juara, tetapi juga memperluas jaringan sosial sesama pecinta olahraga otak. Suasana di ruang pertandingan seringkali sangat hening, hanya terdengar suara rabaan tangan di atas papan dan sesekali suara pemain yang menyebutkan langkah dalam notasi Catur Papan Khusus Netra, diakhiri dengan kata “Cekmat” yang menandakan kemenangan strategi yang brilian.

Bapomi Sijunjung juga melibatkan para mahasiswa dan ahli catur untuk menjadi wasit dan pendamping. Mereka dilatih untuk memahami etika bertanding dengan atlet netra, di mana komunikasi verbal menjadi sangat penting. Selain medali dan penghargaan, Bapomi memberikan bantuan modal bagi para peserta untuk terus mengembangkan kemampuan mereka di rumah. Ini adalah bentuk investasi pada sumber daya manusia yang sering kali terlupakan dalam agenda besar pembangunan daerah. Olahraga catur bagi tunanetra adalah bukti bahwa kecerdasan tidak bergantung pada indra penglihatan, melainkan pada ketajaman logika dan intuisi.