Kecepatan dalam lari sprint bukan hanya tentang seberapa kuat otot paha berkontraksi, tetapi juga tentang seberapa efektif energi disimpan dan dilepaskan oleh jaringan ikat. Dalam biomekanika olahraga, faktor ini dikenal sebagai kekakuan tendon atau tendon stiffness. Bagi para atlet BAPOMI Sijunjung, memahami sifat elastisitas tendon—terutama tendon Achilles—adalah rahasia di balik kemampuan untuk menghasilkan langkah yang eksplosif dan efisien. Tendon yang kaku bertindak layaknya pegas baja yang sangat kuat; semakin cepat ia meregang dan kembali ke bentuk semula, semakin besar energi pegas yang dihasilkan untuk mendorong tubuh maju ke depan dengan kecepatan tinggi.
Sains di balik kecepatan sprint melibatkan apa yang disebut sebagai siklus peregangan-pemendekan (stretch-shortening cycle). Saat kaki menyentuh tanah, tendon menyimpan energi elastis, dan saat kaki terangkat, energi tersebut dilepaskan secara instan. Jika tendon terlalu fleksibel atau lemas, energi tersebut akan terbuang sebagai panas, dan otot harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan daya dorong. Bagi atlet BAPOMI Sijunjung, latihan pliometrik seperti lompat kotak (box jumps) dan latihan beban isometrik dirancang khusus untuk meningkatkan kekakuan jaringan ikat ini. Dengan tendon yang lebih kaku, waktu kontak kaki dengan tanah menjadi lebih singkat, yang merupakan indikator utama dari seorang sprinter elit.
Namun, kekakuan ini harus dikelola dengan sangat hati-hati agar tidak berujung pada cedera. Tendon yang kaku membutuhkan kapasitas pemuatan yang tinggi agar tidak mengalami robekan saat menerima beban yang mendadak. Di Sijunjung, para pelatih mulai mengintegrasikan latihan penguatan eksentrik untuk memastikan bahwa meskipun tendon kaku dan responsif, ia tetap memiliki integritas struktural yang kuat. Keseimbangan antara kekuatan otot gastrocnemius (betis) dan kekakuan tendon Achilles akan menciptakan sinergi yang luar biasa. Seorang atlet yang memiliki “pegangan” yang baik pada permukaan lintasan berkat kualitas tendonnya akan mampu mempertahankan kecepatan maksimal lebih lama dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan kekuatan otot murni.