Pangkas Volume Latihan: Strategi Atlet BAPOMI Sijunjung

Dalam siklus kepelatihan profesional, ada kalanya “lebih sedikit adalah lebih baik.” Prinsip ini menjadi sangat relevan ketika atlet harus berlatih dalam kondisi keterbatasan asupan energi, seperti pada masa pemulihan atau selama menjalankan ibadah puasa. Bagi rekan-rekan BAPOMI Sijunjung, salah satu metode yang paling efektif untuk mempertahankan performa tanpa menyebabkan kelelahan kronis adalah dengan melakukan pangkas volume latihan. Strategi ini bukan berarti menurunkan kualitas atau intensitas, melainkan mengurangi jumlah set, repetisi, atau durasi sesi agar tubuh tidak dipaksa melampaui batas kemampuan pemulihannya.

Volume latihan yang berlebihan saat tubuh sedang defisit kalori dapat memicu peningkatan hormon kortisol secara drastis. Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang akan menghambat proses perbaikan otot dan menekan sistem imun. Bagi seorang atlet, jatuh sakit di tengah masa persiapan adalah kerugian besar. Dengan menerapkan strategi pengurangan volume hingga 30 atau 50 persen dari jadwal reguler, atlet memberikan kesempatan bagi sistem saraf pusat untuk tetap tajam tanpa harus menguras habis cadangan energi yang terbatas. Di wilayah Sijunjung, di mana banyak atlet mengandalkan kekuatan fisik yang besar, penyesuaian ini sangat krusial untuk mencegah terjadinya cedera akibat kelelahan otot yang berlebih.

Meskipun volumenya dikurangi, intensitas atau beban latihan harus tetap dipertahankan pada level yang cukup tinggi untuk memberikan rangsangan pada otot. Misalnya, jika biasanya seorang atlet melakukan 5 set latihan, mereka bisa menguranginya menjadi 2 atau 3 set saja, namun dengan beban yang tetap berat. Hal ini memastikan bahwa tubuh tetap “ingat” akan beban kompetisi tanpa merusak jaringan secara berlebihan. Fokus utama dipindahkan dari kuantitas menuju kualitas gerakan. Teknik yang presisi dan konsentrasi yang mendalam menjadi jauh lebih berharga daripada melakukan banyak gerakan yang ceroboh karena tubuh sudah terlalu lelah.

Penting bagi pelatih di daerah untuk mengomunikasikan alasan di balik perubahan jadwal ini agar atlet tidak merasa bahwa performa mereka sedang menurun. Justru, ini adalah fase pemeliharaan (maintenance) yang sangat cerdas. Dengan energi yang tersisa, atlet dapat menggunakannya untuk aktivitas pemulihan lainnya seperti peregangan statis atau analisis taktik pertandingan melalui video. Fleksibilitas dalam menyusun program latihan menunjukkan tingkat profesionalisme sebuah organisasi olahraga. Lingkungan pelatihan di BAPOMI harus dinamis dan adaptif terhadap kondisi fisiologis para anggotanya agar karier atlet dapat bertahan lama.