Dunia olahraga sering kali dipersepsikan sebagai ranah yang didominasi oleh laki-laki, baik dalam aspek kompetisi maupun manajerial. Namun, paradigma lama ini mulai didekonstruksi oleh Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI). Melalui semangat Gender Inklusif, organisasi ini mulai membuka ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk mengambil peran strategis. Hal ini bukan sekadar upaya memenuhi kuota keterwakilan, melainkan kesadaran objektif bahwa perspektif perempuan sangat dibutuhkan untuk menciptakan kebijakan olahraga mahasiswa yang lebih holistik, empati, dan terorganisir dengan baik.
Peningkatan Kepemimpinan Mahasiswi di lingkungan organisasi olahraga kampus menunjukkan tren yang sangat positif. Saat ini, semakin banyak mahasiswi yang tidak hanya aktif sebagai atlet di lapangan, tetapi juga memegang kendali sebagai ketua komisi, manajer tim, hingga pengambil kebijakan utama dalam rapat-rapat koordinasi daerah. Mahasiswi dianggap memiliki keunggulan dalam hal ketelitian administrasi, manajemen konflik, dan kemampuan komunikasi yang persuasif. Peran-peran ini sangat krusial dalam mengelola dinamika organisasi yang melibatkan ribuan mahasiswa dengan latar belakang cabang olahraga yang berbeda-beda.
Masuknya perempuan dalam Struktur kepengurusan membawa perubahan signifikan dalam budaya kerja organisasi. Kepemimpinan perempuan cenderung lebih inklusif dan mengedepankan dialog dalam penyelesaian masalah. Dalam lingkungan BAPOMI, kehadiran mahasiswi di jajaran pimpinan membantu dalam merumuskan program-program yang lebih ramah bagi atlet perempuan, seperti jaminan keamanan di tempat latihan, fasilitas kesehatan yang spesifik, hingga kebijakan pendampingan psikologis. Hal ini menciptakan lingkungan olahraga yang lebih aman dan nyaman bagi semua pihak, tanpa memandang latar belakang gender.
BAPOMI secara aktif menyelenggarakan program pengembangan kapasitas (capacity building) khusus bagi para aktivis olahraga mahasiswi. Program ini mencakup pelatihan manajemen organisasi, teknik negosiasi, hingga pemahaman tentang regulasi olahraga internasional. Tujuannya adalah untuk membekali mahasiswi dengan kompetensi yang mumpuni agar mereka dapat bersaing secara adil di posisi kepemimpinan mana pun. Organisasi menyadari bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk mempercepat kemajuan olahraga mahasiswa di tingkat nasional, mengingat potensi atlet perempuan yang sangat besar namun sering kali kurang mendapatkan perhatian manajerial yang setara.