Upaya untuk dukung bakat olahraga mahasiswa dilakukan melalui pemetaan potensi yang ada di setiap perguruan tinggi. Setiap mahasiswa memiliki minat yang beragam, mulai dari cabang olahraga bola besar, beladiri, hingga cabang-cabang individu seperti atletik. Dengan mengetahui sebaran minat ini, organisasi dapat memberikan rekomendasi kepada pihak kampus mengenai prioritas pengembangan unit kegiatan mahasiswa. Dukungan ini tidak hanya berupa motivasi verbal, tetapi juga bantuan dalam hal manajerial dan teknis kepelatihan agar bakat yang dimiliki tidak layu sebelum berkembang.
Kehadiran mahasiswa sebagai penggerak utama dalam ekosistem olahraga kampus menuntut adanya ruang-ruang kreasi yang terbuka lebar. Mereka adalah individu-individu yang penuh dengan energi dan keinginan untuk membuktikan diri. Namun, sering kali semangat tersebut terbentur oleh terbatasnya jam operasional lapangan atau kurangnya peralatan yang standar. Di Sijunjung, organisasi berupaya menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan pihak universitas agar tercipta kesepahaman bahwa olahraga adalah bagian integral dari pembentukan karakter dan kesehatan mental mahasiswa, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler biasa.
Pemanfaatan secara maksimal terhadap fasilitas kampus menjadi kunci keberlanjutan program latihan. Fasilitas yang ada, seperti lapangan futsal, gedung serbaguna, hingga lintasan lari sederhana, harus dikelola dengan sistem yang mendukung atlet. Perbaikan sarana yang rusak dan penambahan alat-alat latihan yang modern menjadi poin yang terus diperjuangkan. Dengan fasilitas yang layak, mahasiswa akan lebih bersemangat untuk berlatih secara rutin dan serius. Selain itu, fasilitas yang baik juga meminimalisir risiko cedera akibat medan latihan yang tidak rata atau alat yang sudah tidak laik pakai.
Sering kali, kendala utama di daerah adalah anggaran untuk perawatan sarana olahraga. Namun, BAPOMI Sijunjung mendorong kreativitas dalam pengelolaan. Misalnya, dengan membuka penggunaan fasilitas tersebut untuk umum pada waktu-waktu tertentu guna menghasilkan pendapatan mandiri yang kemudian digunakan kembali untuk biaya perawatan. Pendekatan manajemen mandiri ini diajarkan kepada mahasiswa agar mereka juga belajar mengenai kewirausahaan dan tanggung jawab dalam menjaga aset negara. Kemandirian dalam pengelolaan dukung bakat akan membuat ekosistem olahraga lebih tangguh terhadap fluktuasi bantuan dana pemerintah.